Menuai Kritik, Ini Penyebab Polusi Udara Di Jakarta

- Penulis Berita

Kamis, 9 November 2023 - 00:59

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sudah bukan rahasia lagi bahwa beberapa waktu lalu kualitas udara di Jakarta berada dalam kategori tidak sehat dan tak layak hidup. Hal ini pun menjadi sorotan nasional dan global. Perdebatan terkait penyebab polusi udara di Jakarta tengah ramai menjadi perhatian masyarakat. Ada beberapa pihak yang menyalahkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara sebagai penyebab buruknya kualitas udara di kota Jakarta dan sekitarnya.

Namun, tidak sedikit pihak yang juga mengklaim bahwa polusi udara di Jakarta berasal dari kendaraan bermotor. Mereka berpendapat bahwa meskipun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara memiliki kontribusi signifikan terhadap polusi udara, namun jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah setiap tahunnya juga turut menyumbang emisi gas buang yang tinggi ke udara. Oleh karena itu, perdebatan terus berlanjut mengenai penyebab utama dari masalah kualitas udara yang buruk di kota Jakarta dan sekitarnya.

Penyebab Polusi Udara Di Jakarta Cukup Beragam

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kutipan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, yang diungkapkan dalam Rapat Terbatas Kabinet di Istana Negara, Jakarta pada Senin (14/8/2023), terdapat informasi mengenai peningkatan kualitas udara di wilayah Jabodetabek. Pernyataannya mengindikasikan bahwa sektor transportasi memegang peran dominan dalam penggunaan bahan bakar di Jakarta, dengan persentase mencapai 44% dari total konsumsi bahan bakar. Sementara itu, sektor industri energi menyumbang sekitar 31% dari penggunaan bahan bakar, sedangkan manufaktur industri dan sektor perumahan masing-masing berkontribusi sekitar 10% dan 14%. Sektor komersial, di sisi lain, menyumbang persentase yang lebih kecil, yakni sekitar 1% dari total konsumsi bahan bakar di Jakarta. Dengan demikian, data ini memperlihatkan distribusi penggunaan bahan bakar di berbagai sektor ekonomi di ibu kota Indonesia.

Apabila dilihat dari sisi penghasil emisi karbon monoksida (CO), data menunjukkan bahwa sektor transportasi memiliki andil yang sangat besar, yakni mencapai 96,36% dari total emisi CO atau setara dengan 28.317 ton per tahun. Diikuti oleh sektor pembangkit listrik yang memberikan kontribusi sekitar 1,76% atau sekitar 5.252 ton CO per tahun, dan sektor industri yang mencapai sekitar 1,25% atau sekitar 3.738 ton CO per tahun. Informasi ini memberikan gambaran jelas tentang seberapa signifikan kontribusi sektor transportasi dalam emisi karbon monoksida di wilayah tersebut, dengan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya.

Jumlah sepeda motor yang mencapai 78% dari total kendaraan bermotor di DKI Jakarta dan perkembangan jumlah sepeda motor terus meningkat seiring waktu, dengan pertumbuhan mencapai sekitar 1.046.837 unit sepeda motor yang terdaftar setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sepeda motor adalah kendaraan yang sangat dominan dalam lalu lintas dan transportasi di ibu kota, yang berdampak signifikan pada emisi gas buang dan penyebab polusi udara di Jakarta.

Namun, apabila kita mempertimbangkan dari aspek penghasil emisi Sulfur Dioksida (SO2), terlihat bahwa sektor industri manufaktur menjadi kontributor utama dengan jumlah emisi SO2 yang mencapai 2.631 ton per tahun atau setara dengan 61,9% dari total emisi. Disusul oleh sektor industri energi dengan kontribusi emisi SO2 sebesar 1.071 ton per tahun atau sekitar 25,17%. Sementara itu, kendaraan bermotor hanya memberikan kontribusi sekitar 11% dari total emisi SO2, yang setara dengan sekitar 493 ton per tahun. Data ini memperlihatkan bahwa sektor industri, terutama industri manufaktur dan industri energi, memiliki peran yang signifikan dalam emisi Sulfur Dioksida di wilayah tersebut, sementara kontribusi dari kendaraan bermotor relatif lebih kecil. Laporan tersebut juga mengungkap bahwa penggunaan batu bara dalam industri manufaktur menjadi penyebab utama tingginya emisi Sulfur Dioksida.

Laporan juga membantah dugaan bahwa penyebab polusi udara di Jakarta disebabkan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Suralaya, Cilegon, Provinsi Banten. Hasil analisis tahun 2019 membuktikan bahwa pencemaran udara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Cilegon, Provinsi Banten, tidak mengarah ke Jakarta, melainkan beralih menuju Selat Sunda.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya juga memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan polusi udara. Menurutnya, selain dari emisi transportasi, kemarau panjang dan konsentrasi polutan juga berperan penting dalam masalah kualitas udara. Pada tahun 2022, terdapat catatan bahwa terdapat sekitar 24,5 juta kendaraan bermotor yang beroperasi di Jakarta, di mana sepeda motor menyumbang sekitar 19,2 juta di antaranya. Oleh karena itu, kendaraan bermotor dianggap sebagai penyebab utama dari pencemaran kualitas udara.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, turut memberikan sorotan terhadap penyebab polusi udara di Jakarta atau di wilayah Jabodetabek. Menurutnya, masalah ini secara signifikan berasal dari emisi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Dalam penilaiannya, partikel halus dengan ukuran PM2,5 dianggap sebagai zat paling berbahaya yang berasal dari emisi kendaraan. Meskipun terdapat wacana masyarakat yang menyalahkan PLTU, namun hasil kajian menunjukkan bahwa kontribusi PLTU hanya sekitar 25% dari total emisi.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dengan tegas menegaskan bahwa inisiatif untuk meningkatkan kualitas udara di wilayah Jabodetabek telah difokuskan pada tiga sektor utama, yakni sektor transportasi, industri, dan pembangkitan listrik, disertai dengan perhatian khusus terhadap aspek lingkungan hidup. Beliau menekankan bahwa tindakan preventif dan perbaikan dalam sektor-sektor ini merupakan langkah penting dalam mengatasi masalah polusi udara yang semakin mengkhawatirkan di kawasan tersebut.

Upaya untuk mengatasi penyebab polusi udara di Jakarta mencakup berbagai langkah, mulai dari modifikasi cuaca, kewajiban penggunaan scrubber atau pembersih polusi pada PLTU batu bara, pembagian jam kerja di Jakarta, hingga promosi penggunaan transportasi publik dan percepatan penggunaan kendaraan listrik. Dengan upaya terkoordinasi di bidang transportasi, pengelolaan industri, dan penggunaan sumber daya energi yang lebih ramah lingkungan, diharapkan kualitas udara di Jabodetabek dapat mengalami peningkatan yang signifikan, memberikan dampak positif bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

 

Berita Terkait

Waspadai Kanker Serviks Kenali Gejala dan Pencegahannya
Wabah Pneumonia Di China Gemparkan Warganet, Ini Faktanya
Jokowi Ungkap Tingkat Stress Guru Cukup Tinggi, Berikut Datanya
Tips Mengurangi Bau Badan Yang Ampuh
Ketahui Penyebab Kanker Sebelum Terjadi, Ternyata Ini
Cara Membersihkan Karang Gigi, Mudah Dan Aman
Tips Mengatur Gula Darah, Jauhi Diabetes
Ketahui Berbagai Macam Penyebab Sakit Perut

Berita Terkait

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:37

Banjir Jakarta Timur Capai Ketinggian Hampir 2 Meter?

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:34

Kiki Fatmala Meninggal Dunia Berjuang Lawan Komplikasi Kanker

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:23

Pengungsi Rohingya Tidak Puas Dengan Makanan Yang Diberikan, Ini Kronologinya

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:21

Elon Musk Dukung Israel, Berikan Sumbangan Dan Siap Memfasilitasi

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:17

Agresi Gaza Belum Selesai, Perdana Menteri Israel Angkat Bicara

Jumat, 1 Desember 2023 - 16:43

Pria Tewas Tanpa Identitas di Malang Tergeletak Bersimbah Darah

Jumat, 1 Desember 2023 - 15:49

Gencatan Senjata Israel Hamas Diperpanjang, Namun Serang Tepi Barat?

Kamis, 30 November 2023 - 21:16

Curah Hujan Tinggi, Sejumlah Wilayah Indonesia Dilanda Banjir

Berita Terbaru