Tak Setuju TikTok Shop Dilarang, Crazy Rich Surabaya Beri Usulan

- Penulis Berita

Sabtu, 30 September 2023 - 23:08

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TikTok Shop dilarang merupakan keputusan pemerintah yang melarang social media yang berfungsi sebagai e-commerce. Keputusan ini telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan banyak pihak. Terutama bagi para Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan aplikasi ini untuk memasarkan produk mereka. Kini, aplikasi yang dikenal sebagai social commerce ini sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Salah satu Crazy Rich Surabaya, Tom Liwafa, turut menyuarakan keprihatinannya terkait TikTok Shop dilarang. Baginya, larangan ini akan memberatkan banyak seller TikTok, yang jumlahnya mencapai belasan juta orang. “Pelarangan, saya menolak karena belasan juta orang jualan di TikTok, baik anak muda, ibu-ibu, mahasiswa, bahkan orang yang tak punya keuangan untuk membuka toko fisik. Itu keputusan yang tidak tepat,” ujarnya pada wawancara dengan detikJatim pada Kamis (28/9/2023).

 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tom Liwafa, Crazy Rich Surabaya Soroti Langkah Pemerintah

Aplikasi TikTok memadukan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai media sosial dan juga platform jual beli online atau e-commerce. Namun, tidak hanya itu, aplikasi ini juga sering kali menjadi kontroversi, terutama setelah Presiden Jokowi mengeluarkan larangan penggunaannya.

Tom Liwafa, pengusaha kaya asal Surabaya, juga menyoroti langkah pemerintah yang melarang social commerce, khususnya TikTok Shop, untuk berjualan. Ia menilai bahwa larangan ini bukan solusi yang tepat. Pasalnya, hal ini dapat merugikan ratusan ribu penjual yang telah terbentuk di platform e-commerce

Tom Liwafa, yang akrab disapa Tomli, mengungkapkan bahwa jumlah pengguna TikTok di Indonesia yang menjadi seller mencapai 12 juta orang. Baginya, kebijakan ini tidak adil. “Ada 12 juta pengguna TikTok yang juga berperan sebagai seller, baik sebagai afiliasi maupun pedagang asli.”Jadi, jika Menteri UMKM dan Menteri Perdagangan melarang dan mengorbankan belasan juta seller yang ada di TikTok hanya untuk memperjuangkan 5 ribu kios di pusat perbelanjaan, itu tidak adil,” tegasnya.

 

Tomli Anggap TikTok Shop Dilarang Bukanlah Hal Yang Tepat

Tomli menekankan bahwa keputusan ini tidak tepat, karena penutupan TikTok Shop akan berdampak pada belasan juta seller. Ia menegaskan bahwa TikTok Shop adalah solusi bagi banyak seller yang tidak mampu menyewa kios dengan harga mencapai ratusan juta. Untuk itu, penolakan terhadap kebijakan pemerintah ini menjadi suara yang penting.

Sesuai dengan informasi yang kami terima, terdapat rencana untuk segera mengundangkan revisi dari Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 50 Tahun 2020 yang mengatur mengenai Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Jika revisi ini berlaku, maka seluruh social commerce akan dilarang untuk berperan sebagai produsen.

Tomli berpendapat bahwa pemerintah seharusnya memiliki solusi lain daripada TikTok Shop dilarang. Ia mencatat ada empat poin yang bisa diterapkan: pertama, batasi penjualan dari luar negeri (crossborder); kedua, larang artis untuk menjual barang pokok; ketiga, atur promosi terhadap artis dengan bijak untuk menghindari red market; dan terakhir, pemerintah harus memberikan pernyataan yang jelas agar tidak menimbulkan kebingungan.

Pernyataan resmi telah diberikan oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, yang juga dikenal dengan nama Zulhas, bahwa keberadaan media sosial yang berfungsi sebagai e-commerce akan diresmikan untuk dilarang penggunaannya. Pernyataan ini selaras dengan penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 Regulasi mengenai Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha Dalam Perdagangan Melalui Sistem Elektronik. Diperjelas bahwa aturan ini merupakan revisi dari Permendag Nomor 50 Tahun 2020.

Tidak hanya itu, Zulhas juga menegaskan bahwa larangan ini berlaku sejak Selasa (26/9) setelah revisi aturan diundangkan. Namun, sosial media yang juga berperan sebagai e-commerce diberi waktu seminggu untuk melakukan transisi, termasuk mengurus izin.

Pendapat Tomli sejalan dengan kekhawatiran banyak pihak terkait larangan TikTok Shop. Bagi mereka, TikTok Shop dilarang hanya akan menghambat digitalisasi UMKM dan merugikan sejumlah pihak. Terutama bagi ibu-ibu di pedesaan atau mahasiswa yang mengandalkan platform e-commerce untuk memperoleh penghasilan tambahan.

Tomli berharap agar pemerintah mendengarkan suara dari para seller dan pelaku bisnis online. Ia menekankan bahwa solusi harus diberikan untuk memastikan keuntungan tidak hanya dirasakan oleh sebagian kecil pihak. “Jadi, kalau misalnya kemudian dilarang, ‘solusinya seperti apa?’ apakah kemudian kami mengorbankan perjuangan dari teman-teman online shop, yang mereka itu mempunyai mimpi-mimpi besar dari non toko hingga kemudian menjadi besar,” tegasnya.

 

Dengan keyakinan dan suara yang tegas, Tomli menolak kebijakan ini dan meminta pemerintah untuk mencari solusi yang lebih bijak. “Jadi gimana? Mohon maaf, nih, jangan kemudian bapak-bapak sekalian hanya melarang, oke regulasi diatur, itu saya sepakat, tetapi kalau kemudian melarang secara masif seperti itu, solusinya apa pak, mohon maaf,” tambahnya. Pendapat Tomli dan Crazy Rich Surabaya lainnya menggambarkan kekhawatiran akan dampak TikTok Shop Dilarang terhadap para seller. Dengan jumlah pengguna TikTok yang mencapai jutaan, keputusan ini memang perlu dipertimbangkan kembali demi kesejahteraan UMKM dan pelaku bisnis online di Indonesia.

Berita Terkait

Banjir Jakarta Timur Capai Ketinggian Hampir 2 Meter?
Kiki Fatmala Meninggal Dunia Berjuang Lawan Komplikasi Kanker
Pengungsi Rohingya Tidak Puas Dengan Makanan Yang Diberikan, Ini Kronologinya
Elon Musk Dukung Israel, Berikan Sumbangan Dan Siap Memfasilitasi
Cak Imin Tolak Pembangunan IKN Jika Terpilih
Agresi Gaza Belum Selesai, Perdana Menteri Israel Angkat Bicara
Pria Tewas Tanpa Identitas di Malang Tergeletak Bersimbah Darah
Gencatan Senjata Israel Hamas Diperpanjang, Namun Serang Tepi Barat?

Berita Terkait

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:37

Banjir Jakarta Timur Capai Ketinggian Hampir 2 Meter?

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:34

Kiki Fatmala Meninggal Dunia Berjuang Lawan Komplikasi Kanker

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:23

Pengungsi Rohingya Tidak Puas Dengan Makanan Yang Diberikan, Ini Kronologinya

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:21

Elon Musk Dukung Israel, Berikan Sumbangan Dan Siap Memfasilitasi

Sabtu, 2 Desember 2023 - 18:17

Agresi Gaza Belum Selesai, Perdana Menteri Israel Angkat Bicara

Jumat, 1 Desember 2023 - 16:43

Pria Tewas Tanpa Identitas di Malang Tergeletak Bersimbah Darah

Jumat, 1 Desember 2023 - 15:49

Gencatan Senjata Israel Hamas Diperpanjang, Namun Serang Tepi Barat?

Kamis, 30 November 2023 - 21:16

Curah Hujan Tinggi, Sejumlah Wilayah Indonesia Dilanda Banjir

Berita Terbaru